Jumat, 28 Juni 2013

Kesenian yang Sudah Ditelanjangi

Kesenian yang Sudah Ditelanjangi

Patung, dan lukisan adalah ciptaan manusia dari berbagai panca indra yang manusia miliki, dalam mengapresiasi karya seni hanya ada satu kata yang terlintas dalam bibir kita yaitu indah. Aspek keindahan dalam dunia seni tidak terbatas waktu, ruang, dan tempat karena seni adalah sesuatu yang sangat indah melebihi apapun yang ada di dunia ini.
Aspek yang tidak terbatas waktu, ruang, dan waktu ini lha yang menyebabkan karya seni itu menjadi karya yang berbau asusila di mata orang lain. Seperti yang di tuliskan oleh M. Shoim Anwar dalam kumpulan cerpen “Asap Rokok di Jilbab Santi” yang berjudul BERHALA di HUTAN KAYU di dalam cerpen ini sang pencipta memaparkan sesuatu yang umum pada masyarakat, yakni sebuah pro dan kontra dari sebuah karya seni yang berupa patung telanjang dengan posisi membuka tangan seolah – olah menyambut pelukan orang.
Patung yang berada di depan sebuah masjid itu sebuah karya seni ciptaan dari suatu aliansi yang menurut saya aliansi itu aliansi yang tercela, mengapa tidak di dalam cerpen itu dijelaskan buku-buku cerita yang kelewat jorok, serta kumpulan puisi dengan gambar alat kelamin di depan sampulnya ditemukan warga di sekitar pembuatan patung telanjang itu. Berbagai kecaman dan dukungan pun mewarnai sebuah sosok perempuan yang berdiri menjulang, rambutnya panjang mengurai, telapak kakinya menumpuk di pelataran beton, tangannya membuka seakan – akan sosok itu akan menyambut seseorang, bagian-bagian patung itu terukir dengan detail tanpa ada yang disembunyikan.
Pihak yang mendukung patung tersebut tentunya dari aliansi tercela yang mengatasnamakan “seni” mereka adalah hudat, mariani, benis, muhid, dan bihat. Sementara pihak yang tidak setuju akan kehadiran patung tersebut adalah pak tais, waidi, wowo, dan beberapa warga kampung pihak yang kontra akan kehadiran patung tersebut dalam berargumen menggunakan dalil moral, sosial, tanggung jawab masyarakat dan nilai asusila terutama pak tais yang sangat sangat menentang kehadiran patung tersebut.
Di dalam cerpen ini, pencipta memaparkan suatu hal yang terkait dengan isi dari cerita ini. Pencipta memaparkan pandangan dari kaum yang kontra (tidak mendukung adanya patung itu), dan pandangan dari kaum yang pro (mendukung kehadiran patung itu). Karya seni memang indah jika dipandang dan memiliki estetika yang tinggi, akan tetapi jika mengandung hal-hal yang bertentangan dengan moral dan asusila akan membawa dampak yang negatif. Kesenian yang hampir sama dengan isi cerpen ini akan tetapi berbeda telah dibuat oleh mahasiswa dari Universitas PGRI Adi Buana Surabaya jurusan “seni rupa”.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar