Kesenian yang Sudah Ditelanjangi
Patung, dan lukisan adalah ciptaan manusia dari berbagai panca indra
yang manusia miliki, dalam mengapresiasi karya seni hanya ada satu kata yang
terlintas dalam bibir kita yaitu indah. Aspek keindahan dalam dunia seni tidak
terbatas waktu, ruang, dan tempat karena seni adalah sesuatu yang sangat indah
melebihi apapun yang ada di dunia ini.
Aspek yang tidak terbatas waktu, ruang, dan waktu ini lha yang menyebabkan
karya seni itu menjadi karya yang berbau asusila di mata orang lain. Seperti
yang di tuliskan oleh M. Shoim Anwar dalam kumpulan cerpen “Asap Rokok di
Jilbab Santi” yang berjudul BERHALA di HUTAN KAYU di dalam cerpen ini sang
pencipta memaparkan sesuatu yang umum pada masyarakat, yakni sebuah pro dan
kontra dari sebuah karya seni yang berupa patung telanjang dengan posisi
membuka tangan seolah – olah menyambut pelukan orang.
Patung yang berada di depan sebuah masjid itu sebuah karya seni ciptaan
dari suatu aliansi yang menurut saya aliansi itu aliansi yang tercela, mengapa
tidak di dalam cerpen itu dijelaskan buku-buku cerita yang kelewat jorok, serta
kumpulan puisi dengan gambar alat kelamin di depan sampulnya ditemukan warga di
sekitar pembuatan patung telanjang itu. Berbagai kecaman dan dukungan pun
mewarnai sebuah sosok perempuan yang berdiri menjulang, rambutnya panjang
mengurai, telapak kakinya menumpuk di pelataran beton, tangannya membuka seakan
– akan sosok itu akan menyambut seseorang, bagian-bagian patung itu terukir
dengan detail tanpa ada yang disembunyikan.
Pihak yang mendukung patung tersebut tentunya dari aliansi tercela yang
mengatasnamakan “seni” mereka adalah hudat, mariani, benis, muhid, dan bihat. Sementara
pihak yang tidak setuju akan kehadiran patung tersebut adalah pak tais, waidi,
wowo, dan beberapa warga kampung pihak yang kontra akan kehadiran patung
tersebut dalam berargumen menggunakan dalil moral, sosial, tanggung jawab
masyarakat dan nilai asusila terutama pak tais yang sangat sangat menentang
kehadiran patung tersebut.
Di dalam cerpen ini, pencipta memaparkan suatu hal yang terkait dengan
isi dari cerita ini. Pencipta memaparkan pandangan dari kaum yang kontra (tidak
mendukung adanya patung itu), dan pandangan dari kaum yang pro (mendukung
kehadiran patung itu). Karya seni memang indah jika dipandang dan memiliki
estetika yang tinggi, akan tetapi jika mengandung hal-hal yang bertentangan
dengan moral dan asusila akan membawa dampak yang negatif. Kesenian yang hampir
sama dengan isi cerpen ini akan tetapi berbeda telah dibuat oleh mahasiswa dari
Universitas PGRI Adi Buana Surabaya jurusan “seni rupa”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar