Berkulit kuning, mulus, bersih, dan montok
Oleh: Chautsar Afandi
Tiap manusia diciptakan dalam perbedaan
oleh Tuhan dan oleh sebab itu setiap manusia pasti memiliki ciri khas. Meskipun
diciptakan secara berbeda dalam hal jenis kelamin, agama, budaya, sosial,
maupun etnis tetaplah sama bagi Tuhannya. Dalam cerpen “Jawa, Cina, Madura nggak
masalah.Yang penting rasanya….”
karya M Shoim Anwar ini menggambarkan tentang kedudukan suami dan istri, rasa sayang dan hak etnis
Cina. Cerpen ini menceritakan dimana kedudukan suami dan istri sangat kuat terlihat, hanya
saja sang istri menginginkan hak yang sama seperti suami. Padahal kodrat
seorang suami adalah memimpin.
Namun pada cerpen
tersebut sang istri yang menginginkan sang suami yang membeli peralatan
kecantikan itu agar suami juga merasakan tugas istri yang biasanya melayani
suaminya. Terkadang pemikiran seperti ini merupakan hal yang tidak bagus karena
suami sebagai kepala keluarga tugasnya hanya mencari nafkah dan dilayani,
tetapi pada masyarakat sekarang ini tugas suami dan istri sama yaitu saling mengisi
antar satu dengan lainnya.
Sedangkan kehidupan
etnis Cina mungkin berbeda namun yang membedakan hanya dari segi fisik yang
mencakup dari warna kulit serta asal-usul kepercayaan. Pada cerita juga menggambarkan
menggambarkan tindak kekerasan yang terjadi terhadap keluarga Ko Han. Dari beberapa potongan kalimat di cerpen itu menggambarkan bahwa
terjadi sebuah penindasan terhadap etnis Cina yang dilakukan oleh massa.
Selain itu dalam cerpen
Jawa, Cina, Madura nggak masalah. Yang penting rasanya karya M Shoim Anwar menggambarkan
kue pastel sebagai simbol
bahwa siapapun yang membuat atau menjual kue itu tidaklah penting, isi dan
bentuknya tetaplah sama seperti kue pastel pada umumnya.
Dari beberapa uraian di cerpen tergambar jelas bahwa siapa saja
yang menjual atau membuat kue itu tidaklah menjadi masalah, asal-usul mereka
hanyalah merupakan sebuah simbol. Sama halnya manusia kita selalu sama
dihadapannya, yang berbeda hanyalah segi fisik dan asal-usulnya. Adapun yang
dapat kita petik setelah membaca cerpen Jawa, Cina, Madura nggak masalah. Yang
penting rasanya karya M Shoim Anwar ini yaitu seharusnya kita dapat mempelajari
bahwa kita mungkin berbeda-beda dari jenis kelamin, agama, warna kulit, etnis,
budaya atau sosial tapi bagi Tuhan kita tetaplah sama. Alangkah begitu indah
jika kita semua memahami perbedaan yang ada.