Jumat, 28 Juni 2013

Agama menganut politik atau sebaliknya ?

Agama menganut politik atau sebaliknya ?
Oleh : Chautsar Afandi

Dalam kehidupan saat ini “Kiai” adalah sebuah salah satu tokoh keagaaman yang baik itu dalam perilaku, maupun tutur katanya kita contoh. Bahkan saat ini orang-orang beranggapan seorang kyai hampir sama derajatnya dengan nabi. Tahukah anda tentang asal-usul kata “kyai”, asal-usul nama ini berasal dari serapan dua kata dalam bahasa jawa. Kata yang pertama yakni kata “iki” yang mempunyai arti ini, sedangkan kata yang kedua ialah kata “ae” yang berarti saja. Jika kedua kata tersebut digabungkan maka akan menjadi iki ae yang berarti ini saja atau orang yang sudah dianggap mumpuni dalam agama islam baik itu dalam hak aqidah, perilaku, dan tutur kata.
Seperti pada kehidupan kiai jogoloyo yang dimana bumi dijunjung di situ langit di jinjing, sang kiai yang sudah tersohor ke pelosok negeri itu mempunyai sebuah pesantren bagi murid laki-laki dan perempuannya. Sebuah pesantren yang sederhana dengan fasilitas yang sederhana pula ini bukan semata-mata karena tidak adanya dana, akan tetapi sebuah opini dari sang kiai yang beranggapan jika kondisi seperti itu justru akan mencetak generasi yang jujur, adil, dan amanah. Namun seiring dengan berjalannya waktu sang kiai lupa akan tugasnya sebagai seorang pendidik di pondok pesantren yang ia pimpin.
Penyebab kiai seperti itu ialah ketika kiai jogoloyo memutuskan terjun ke dunia politik, sehingga urusan pondok pesantrennya ia serahkan kepada cantrik. Dahulu di pondok ada tembok pemisah antar laki-laki dan perempuan sekarang tembok itu hilang, dan aturan-aturan yang dahulu dilupakan begitu saja.
Hal serupa saat ini diawali oleh debut bang haji, begitu orang-orang menyapanya bang haji atau raja dangdut yang mempunyai nama rhoma irama itu sekarang meramba dunia politik. Jika dilihat dari kedua tokoh agama ini harusnya mereka berkaca lagi pada sikap mereka yang sudah pantas atau belum bila menyandang status kiai dan haji
Pada sisi kiai jogoloyo sang kiai sudah bertekad untuk mendidik anak didiknya tapi pada faktanya dia meninggalkan anak didiknya demi politik, selain itu sang kiai dalam mempromosikan partainya ia menjelek-jelekkan partai lain dengan berkata seperti ini “pilihlah partai yang ada dua kiainya, jangan yang ada satu kiainya”.
Sementara itu pada sisi bang haji juga sama seperti itu, sebelum ia mencalonkan diri menjadi presiden bang haji dipergoki menjumpai salah seorang wanita di kamar hotel, wanita itu dulunya adalah murid dari bang haji. Tidak hanya itu ketika kampanye gubernur DKI Jakarta bang haji berorasi seperti ini “jangan memilih pemimpin yang tidak muslim, pilihlah pemimpin yang muslim dua-duanya”.

Mau jadi apa negeri kita jika kedua orang itu semakin banyak di dunia ini, memperbaiki aqidahnya sendiri saja tidak bisa, apalagi memimpin rakyat sungguh manusia yang aneh.    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar