Agama menganut politik atau sebaliknya ?
Oleh : Chautsar Afandi
Dalam
kehidupan saat ini “Kiai” adalah sebuah salah satu tokoh keagaaman yang baik
itu dalam perilaku, maupun tutur katanya kita contoh. Bahkan saat ini
orang-orang beranggapan seorang kyai hampir sama derajatnya dengan nabi.
Tahukah anda tentang asal-usul kata “kyai”, asal-usul nama ini berasal dari
serapan dua kata dalam bahasa jawa. Kata yang pertama yakni kata “iki” yang
mempunyai arti ini, sedangkan kata yang kedua ialah kata “ae” yang berarti
saja. Jika kedua kata tersebut digabungkan maka akan menjadi iki ae yang
berarti ini saja atau orang yang sudah dianggap mumpuni dalam agama islam baik
itu dalam hak aqidah, perilaku, dan tutur kata.
Seperti
pada kehidupan kiai jogoloyo yang dimana bumi dijunjung di situ langit di
jinjing, sang kiai yang sudah tersohor ke pelosok negeri itu mempunyai sebuah
pesantren bagi murid laki-laki dan perempuannya. Sebuah pesantren yang
sederhana dengan fasilitas yang sederhana pula ini bukan semata-mata karena
tidak adanya dana, akan tetapi sebuah opini dari sang kiai yang beranggapan
jika kondisi seperti itu justru akan mencetak generasi yang jujur, adil, dan
amanah. Namun seiring dengan berjalannya waktu sang kiai lupa akan tugasnya
sebagai seorang pendidik di pondok pesantren yang ia pimpin.
Penyebab
kiai seperti itu ialah ketika kiai jogoloyo memutuskan terjun ke dunia politik,
sehingga urusan pondok pesantrennya ia serahkan kepada cantrik. Dahulu di
pondok ada tembok pemisah antar laki-laki dan perempuan sekarang tembok itu
hilang, dan aturan-aturan yang dahulu dilupakan begitu saja.
Hal
serupa saat ini diawali oleh debut bang haji, begitu orang-orang menyapanya
bang haji atau raja dangdut yang mempunyai nama rhoma irama itu sekarang
meramba dunia politik. Jika dilihat dari kedua tokoh agama ini harusnya mereka
berkaca lagi pada sikap mereka yang sudah pantas atau belum bila menyandang
status kiai dan haji
Pada
sisi kiai jogoloyo sang kiai sudah bertekad untuk mendidik anak didiknya tapi
pada faktanya dia meninggalkan anak didiknya demi politik, selain itu sang kiai
dalam mempromosikan partainya ia menjelek-jelekkan partai lain dengan berkata
seperti ini “pilihlah partai yang ada dua kiainya, jangan yang ada satu
kiainya”.
Sementara
itu pada sisi bang haji juga sama seperti itu, sebelum ia mencalonkan diri
menjadi presiden bang haji dipergoki menjumpai salah seorang wanita di kamar
hotel, wanita itu dulunya adalah murid dari bang haji. Tidak hanya itu ketika
kampanye gubernur DKI Jakarta bang haji berorasi seperti ini “jangan memilih
pemimpin yang tidak muslim, pilihlah pemimpin yang muslim dua-duanya”.
Mau
jadi apa negeri kita jika kedua orang itu semakin banyak di dunia ini,
memperbaiki aqidahnya sendiri saja tidak bisa, apalagi memimpin rakyat sungguh
manusia yang aneh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar